Sabtu, 07 Juni 2014


Sabtu, 07 Juni 2014

Kelebihan dan Kekurangan GIS

Kelebihan GIS
GIS (Geographical Information System)
Geographical Information System (GIS) merupakan suatu sistem yang dapat digunakan untuk
mendukung pengambilan suatu keputusan spasial yang dan mampu mengintegrasikan deskripsi-
deskripsi lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di suatu lokasi. Data
dalam GIS ditampilkan dalam posisi-posisi koordinat muka bumi. Kelebihan GIS antara lain adalah
dapat memperbaharui dengan cepat data spasial baik berupa peta maupun data statistik yang
cepat berubah dan kadaluwarsa sehingga pelayanan jasa dan informasi khususnya di sektor
transportasi menjadi lebih akurat.
Kegunaan GIS dalam pengembangan transportasi dalam konteks wilayah antara lain adalah untuk
mendukung perencanaan transportasi baik wilayah maupun kota dan simulasi model perencanaan
transportasi sehingga didapat pilihan yang tepat terhadap alternatif rencana yang didukung oleh
peta, data dan informasi statistik spasial yang tersaji secara cepat dan akurat. Saat ini sofware-
software GIS yang sudah dikembangkan dan banyak digunakan antara lain : Map Info, Arc Info,
Arc View dll.
Namun demikian, penggunaan GIS di bidang transportasi darat masih terbatas mengingat
keterbatasan SDM, keterbatasan dana dan data pendukung. Keterbatasan SDM terutama adalah
kurangnya tenaga terampil yang menguasai perangkat GIS baik sebagai analisator maupun
operator serta belum semua pengambil keputusan memahami manfaat GIS dalam mendukung
pengambilan keputusan terutama untuk perencanaan. Keterbatasan dana terutama dana yang
digunakan untuk pemeliharaan, operasional, up dating peta dan data serta peningkatan SDM,
perangkat lunak dan keras. Keterbatasan peta, data dan informasi terutama adalah baik kurangnya
peta, data maupun informasi yang akurat dan sesuai dengan format yang dipakai dalam GIS.
Selain masih terbatasnya peta-peta digital yang ada, keterbatasan tenaga terampil dalam up
dating peta, data dan informasi serta penyampaian data manual yang seringkali tidak tepat waktu
dan tidak sesuai dengan format yang ditentukan.
Kekurangan GIS
Sumber kesalahan
Ada banyak sumber kesalahan yang sering terdapat dalam penggunaan GIS. Tulisan ini mencoba mengulas beberapa dari dua kategori: salah masukan dan salah pemodelan.
Tidak jarang masukan berupa “peta geologi” dalam Data Pokok untuk Pembangunan Daerah hanya berisi distribusi jenis atau formasi batuan, tanpa adanya indikasi struktur patahan, arah perlapisan, dan sebagainya. Peta ini tentu saja kurang memadai untuk menurunkan informasi kerawanan bencana-misalnya gempa dan longsor. Namun, begitulah kenyataan yang ada. Peta dengan akurasi informasi dan relevansi yang rendah sering kali “salah masuk” ke dalam suatu pemodelan untuk perencanaan.
Sering pula dijumpai, peta-peta kedaluwarsa dijadikan masukan dalam model perencanaan. Tahun 1995-1997, penulis pernah menjumpai peta-peta tata ruang di beberapa kabupaten di pantai utara Jawa Tengah menggunakan peta dasar tahun 1960-an, dengan posisi garis pantai yang bergeser sampai 1,5 kilometer di selatan garis pantai sekarang!
Masalah berikutnya adalah penggunaan skala yang tidak sesuai. Contohnya, untuk perencanaan wilayah pada skala 1:25.000 diperlukan masukan peta-peta berskala 1:25.000 atau lebih besar/rinci. Karena terbatasnya data dasar, banyak perencana lokal di Indonesia hanya memperbesar peta skala 1:100.000 untuk diproses bersama dengan peta-peta skala 1:25.000. Teknologi GIS dengan mudah dapat menjalankan operasi ini, tetapi secara metodologi hal ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Akibatnya, banyak satuan-satuan pemetaan kecil yang seharusnya menunjukkan lokasi-lokasi rawan bencana, misalnya longsor, tidak ikut dipetakan pada hasil akhir.
Kesalahan lain yang biasa dijumpai adalah dalam proses pemodelan. Di Indonesia, cara yang sering digunakan dalam perencanaan wilayah dengan GIS adalah menerapkan skor pada setiap satuan pemetaan. Misalnya, pada peta lereng, skor 1 diberikan pada lereng datar, 2 untuk lereng miring, dan 3 untuk lereng curam, yang mengacu pada tingkat kerentanan banjir. Hal yang sama diberikan pada peta-peta lain. Ketika peta-peta ini di-overlay-kan dengan cara menjumlahkan seluruh skor pada seluruh peta masukan, skor total terkecil menunjukkan wilayah yang paling rentan banjir, sedangkan skor total besar menunjukkan hal sebaliknya.
Hasil masukan tiga masukan peta saja secara signifikan akan berbeda dengan hasil masukan sepuluh peta. Sama halnya apabila model yang digunakan bukan penjumlahan melainkan perkalian, pembagian, atau kombinasi dengan operasi logis (IF-THEN). Sayangnya, pemberian skor oleh para praktisi kadang kala tak didasari oleh hasil riset yang terpercaya.
Banyaknya variabel berupa peta yang dilibatkan dalam GIS berbanding lurus dengan efek perambatan kesalahan (error propagation) yang terjadi. Kesalahan pada peta-peta masukan akan terakumulasi pada hasil akhir; yang dimaksudkan sebagai rekomendasi lokasi permukiman yang aman ataupun peta tata ruang.

Sabtu, 07 Juni 2014

PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMPUTER DI BIDANG GEOGRAFI (GIS)

GIS (Geograpical Information System)

Sistem informasi geografis (Geographic Information System, GIS) adalah sistem yang dapat digunakan untuk menangkap, menyimpan, menganalisa, serta mengelola data dan karakteristik yang berhubungan yang secara spasial mengambil referensi ke bumi. Lebih jauh, sistem ini dapat didefinisikan sebagai sistem komputer untuk memadukan, menyimpan, membagi, serta menampilkan informasi yang mengambil acuan geografis.
Teknologi GIS menggunakan informasi digital yang didapatkan dari metode pembuatan data digital. Metode pembuatan yang umum digunakan adalah digitization, yaitu peta cetak atau rencana survey yang ditransfer ke dalam bentuk media digital menggunakan program komputer (Computer aided drafting, CAD) serta kapabilitas georeferencing.
GIS dapat digunakan untuk menggambarkan karakteristik permukaan, subsurface, dan atmosfir dari titik-titik informasi secara dua dimensi atau tiga dimensi. Contoh, GIS dapat membuat peta isopleth atau garis kontur yang mengindikasikan perbedaan curah hujan. GIS juga bisa mengenali dan menganalisas hubungan spasial yang ada antara data spasial yang tersimpan secara digital. Relasi topologi ini membuat pemodelan spasial dan analisa yang komplek dapat dilakukan. Relasi topologi yang dimodelkan dengan GIS dapat meliputi adjacency, containment, dan proximity. Dengan pemodelan topologi ini kita dapat mendeteksi keberadaan lokasi SPBU, pasar, atau pabrik yang letaknya dekat suatu area seperti persawahan, atau rawa-rawa.
Selain itu, fungsi GIS juga dapat digunakan untuk mensimulasikan rute material sepanjang jaringan linier. Variabel seperti kemiringan, batas kecepatan, diameterpiap dapat dimasukkan kedalam pemodelan jaringan supaya merepresentasikan aliran fenomena secara akurat. Pemodelan jaringan ini umumnya digunakan dalam perencanaan transportasi, pemodelan hidrologi, serta infrastruktur.
GIS juga bisa digunakan untuk pemodelan kartografi. Pemodelan kartografi (cartographic modelling) dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana layer tematik dibuat, diproses, dan dianalisa, pada suatu lingkup area yang sama. Operasi pada peta hasil pemodelan kartografi dapat digabungkan dengan algoritma untuk mensimulasikan atau mengoptimasi suatu model.

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.
GIS dengan Quantum GIS.Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

STUDY GIS

Sejak tahun 1989, Lembaga Alam Tropika Indonesia atau lebih dikenal dengan LATIN sangat “concern” untuk mengembangkan berbagai kegiatan dan metode dalam partisipasinya mewujudkan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang lebih adil dan lestari. Pengembangan-pengembangan tersebut terutama difokuskan di tingkat masyarakat secara langsung (berbasis komunitas/masyarakat), dalam membantu meningkatkan kemampuan, peran serta dan tingkat hidup masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar atau yang bergantung hidupanya pada hutan. Sampai saat ini LATIN sudah bekerja dengan masyarakat di puluhan desa yang tersebar di 7 kabupaten yaitu Pesisir Krui/Kab. Lampung Barat (Lampung), Kab. Pandeglang (Banten), Kab. Kuningan dan Sukabumi (Jawa Barat), Kab. Pekalongan (Jawa Tengah), Kab. Jember (Jawa Timur) dan Kab. Dompu (Nusa Tenggara Barat)
Salah satu metode yang dikembangkan di lokasi-lokasi tersebut adalah pendekatan berbasis ruang (spasial) yang dilakukan secara ia yaitu SIG atau Sistem Informasi Geografis). Dengan metode ini pendekatan dalam penyelesaian masalah-masalah pengelolaan sumber daya alam dari mulai tingkat masyarakat sampai tingkat kebijakan,partisipatif dan berbasis komunitas melalui pembentukan Studio GIS (Geographical Information System, dalam bahasa Indones dimulai dengan membuat basis informasi yang kuat atas apa yang ada dan terjadi di lokasi di mana fenomena atau permasalahan tersebut terjadi, baik menyangkut aspek fisik, sosial, ekonomi, budaya, dll. Basis informasi ini yang kemudian menjadi bahan diskusi para pihak terkait untuk memutuskan apa yang terbaik yang harus dilakukan. Di 7 lokasi LATIN, sejak 10 tahun terakhir LATIN khususnya Studio GIS mengembangkan dan membantu masyarakat dengan memfasilitasi GIS dan Pemetaan Partisipatif, antara lain untuk perencanaan kawasan hutan, perencanaan desa, dsb.
Selain terus mengembangkan dan berinovasi dengan metode dan teknik-teknik GIS serta Pemetaan, dalam mengembangkan dan mempromosikan pendekatan-pendekatan berbasis spasial Studio GIS juga menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga baik di dalam maupun di luar negeri. Antara lain menjadi anggota JKPP (Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif), bekerja sama dengan Silva Forest Foundation (SFF) dan International Development and Research Center (IDRC) dari Kanada, International Institute for Rural Reconstruction (IIRR) dari Filipina, Sustainable Development Foundation (SDF) Thailand, ESSC Filipina, dll.
Untuk memperluas dan mempromosikan pendekatan berbasis spasial kepada masyarakat luas dengan tema GIS / Pemetaan untuk keperluan yang lebih umum, Studio GIS sejak tahun 2000 memberikan berbagai layanan kepada publik antara lain konsultasi mengenai GIS dan Pemetaan, magang, pelatihan indoor dan outdoor, dll. Baik untuk mitra kerjanya, LSM, staf pemerintah, mahasiswa, maupun untuk masyarakat umum lainnya. Selain juga menerima print peta / poster, layanan data (peta) dijital, dsb.
Untuk hal tersebut, Studio GIS telah didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai antara lain Komputer PC dan Laptop, Plotter (Cetak Ukuran Besar), Printer, Scanner, Digitizer, GPS (Global Positioning System), Altimeter, Kompas, Meteran, dll. Sedangkan untuk perangkat lunaknya antara lain menggunakan Arc View GIS, Arc GIS 9.1, Mapinfo, Er Mapper, dll. Ditangani oleh staf yang telah berpengalaman selama 10 tahun di bidang GIS dan Pemetaan. bagan yang bergerak di bidang GIS dan pemetaan membuat dan mempunyai versinya sendiri-sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar